paradigma dalam mendidik anak dalam mencapai kesuksesan

Published September 3, 2009 by arien20

Suskses adalah impian setiap orang. Sejak kecil kita pasti mempunyai cita-cita, untuk meraih cita-cita tentunya kita harus melewati tahapan-tahapan dalam hidup .

Tahapan yang pertama adalah belajar. Sejak bayi kita sudah mulai belajar. Pertama kita akan belajar mendengar, setelah belajar mendengar kita akan berbicara dan setelah berbicara kita belajar membaca dan setelah membaca kemudian belajar menulis. Semua tahapan belajar itu tentunya tidak mudah, orang tua dengan susah payah memberikan contoh, misalnya menyebut dengan mama, papa, mimik dan lain-lain. Alangkah bahagianya kita mendengar kata pertama yang diucapkan oleh anak kita. Dengan bangganya kita bisa melihat perkembangan anak. Semuanya tidak berhenti sampai disini. Setelah usia 3 tahun banyak orang tua mencari sekolah untuk anak usia dini. Kita tentunya akan bangga anak kita dapat berkembang sesuai dengan tingkatan usianya. Tetapi terkadang orang tua dan guru akan merasa panik dan marah apabila anak tersebut tidak bisa mengikuti pembelajaran yang telah berlangsung atau tidak mempunyai prestasi atau mendapatkan nilai jelek di sekolahnya. Kenapa kita harus panik. Asal kita tahu bahwa setiap anak dilahirkan dalam kondisi cerdas. Semua tinggal bagaimana cara kita mengoptimalkan kecerdasan anak.Banyak sekali orang tua atau guru menyampingkan anak-anak yang kurang cerdas, bandel dan tidak pernah patuh. Apakah ini adil bagi anak. Setiap anak berhak mendapatkan pendidikan, karena dengan pendidikan anak dapat mencapai kesuksesan. Berbicara masalah pendidikan tentunya setiap orang tua dan guru akan merasa bangga apabila anak tersebut mendapatkan nilai yang bagus. Guru akan merasa cemas dan marah apabila anak didik mendapatkan nilai dibawah rat-rata. Sementara anak-anak yang terkadang aktif dalam kegiatan akan mendapatkan nilai yang kurang memuaskan. Terkecuali anak-anak yang bisa mengatur waktunya sebaik-baiknya. Tentunya selain mendapatkan nilai akademis yang bagus juga aktif dalam kegiatan. Lalu bagaimana dengan nasib anak-anak yang memang kurang dalam akademis tetapi disatu sisi mereka cerdas dalam spiritual dan emosional. Kita sebagai orang tua dan guru tentunya punya tanggung jawab yang besar untuk menghantarkan anak didik kita mencapai kesuksesan. Kita harus berlaku adil, karena intinya kita akan mendidik bukan mengajar.

Untuk mencapai sukses seseorang harus memiliki 3 kecerdasan yaitu kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Masing-masing mempunyai peran yang penting dalam membantu anak menuju kesuksesan. Kecerdasan apa yang paling pokok supaya seseorang itu bisa mencapai kesuksesan . Ternyata adalah kecerdasan spiritual sebanyak 50 %, kecerdasan emosional 30 % dan kecerdasan intelektual 20 %. Dari data ini dapat dilihat bahwa anak tidak hanya cukup pandai saja, tetapi perlu adanya pengembangan dalam hal spiritual dan emosional. Selama ini pendidikan kita lebih mengutamakan kecerdasanintelektual, tetapi bagaimana dengan kecerdasan spiritual dan kecerdasan emosional. Banyak orang-orang sukses karena mempunyai kecerdasan emosional yang tinggi. Misalnya seseorang yang bekerja dalam pembuatan film, maka dibutuhkan orang-orang yang trampil, tetapi juga dapat berkomunikasi di lingkungan kerja yang notabene dari berbagai kalangan masyarakat. Apabila pendidikan kita selama ini tidak mengoptimalkan kecerdasan emosional anak maka apabila anak nanti masuk di dunia kerja maka akan sulit untuk dapat mengenali dirinya, mengendalikan dirinya bahkan memotivasi, bersikap empati bahkan berkomunikasi dengan orang lain. Dalam dunia kerja anak akan menemui berbagai karakteristik manusia. Siapkah anak kita menghadapi dunia seperti itu. Untuk menyiapkan anak yang mempunyai kecerdasan emosional maka kita perlu memberikan pendidikan yang selayaknya. Berikanlah anak kesempatan untuk mengoptimalkan kemampuan di bidangnya, biarkanlah anak mengembangkan kreativitasnya. Karena dengan kita melabel anak atau menghakimi anak tentunya anak akan merasa dirinya tidak berguna dan putus asa. Semua ini akan mematahkan semangat anak. Berikanlah kata-kata yang bisa memberikan motivasi ke anak bukan kata-kata yang menghujat atau tidak enak di dengar . Kata-kata yang indah akan lebih dapat dimengerti dan dihargai anak. Kenalilah setiap karakteristik anak. Menganggap semua anak sama itu tidaklah benar, karena setiap anak mempunyai keunikan masing-masing. Bahkan anak dalam kandungan yang sama tentunya akan berbeda. Dari sinillah kita tahu bahwa Tuhan tidak menciptakan setiap manusia yang sama walau kembar sekalipun. Oleh karena itu sepantasnya kita sebagai orang tua dan guru bangga dengan apapun kondisinya anak, tinggal kita bagaimana cara mengoptimalkan kecerdasan anak.Tuntunlah anak kita untuk mencapai kesuksesan. Bekalilah anak dengan emiliki kecerdasan emosional dan spiritual.

2 comments on “paradigma dalam mendidik anak dalam mencapai kesuksesan

  • Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s

    %d bloggers like this: