EDUCATION

All posts in the EDUCATION category

Penelitian Tindakan Kelas ” Wajib Bagi Guru “

Published November 12, 2012 by arien20

Agaknya memang berat tapi semua itu tidak ada yang berat kalau dilakukan dengan perasaaan senang, seperti tugas mengajar dikelas. bagi guru mengajar merupakan tugas pokok, akan tetapi saat ini guru dituntut untuk selalu mengembangkan profesionalismenya salah satunya harus melakukan penelitian tindakan kelas. bagi yang menginginkan pedoman PTK dari dikmen..silahkan download disini..dijamin komplit..selamat berkarya.

POLA ASUH ANAK

Published October 3, 2009 by arien20

Pola asuh terhadap anak terkadang dapat menjadi tradisi atau ciri khas pada masing-masing keluarga. Seperti apakah kita dalam menerapkan pola asuh dan apa akibatnya
Berikut ini saya sajikan 4 macam pola asuh dan akibatnya.

No Macam pola asuh Akibatnya
1. INDULGENT

  • Sangat sabar
  • banyak aturan
  • Komunikatif
  • Tdk punya kemampuan dalam

menjalankan aturan/ menetapkan

pilihan sederhana

  • impulsive , tidak dewasa
  • agresive, kontrol impuls rendah
  • kemampuan rendah dlm   perhatian
  • Tdk patuh
  • Laki2 kelihatan lebih nyata,umumnya ortu lebih membatasi  perempuan
2. UN-INVOLVED/

NEGLIGENT

  • Sibuk masalah pribadi
  • Terpaku pada pikiran sendiri
  • Tidak tertarik hal2 emosional
  • Perhatian pd kelekatan
  • Tidak patuh
  • Frustasi dlm level bawah
  • Perilaku nakal
  • Kurang pengendalian diri
3. AUTHORITATIVE

  • Controlling
  • Demanding
  • Aturan dikuatkan

dgn akibat

dari suatu perbuatan

  • Harapan tinggi
  • Hangat
  • Perhatian
  • Mendengarkan
  • Sabar
  • Demokratis
  • Menjelaskan aturan
  • Gembira
  • Percaya diri
  • Mampu mengendalikan diri
  • Kerjasama
  • Bersemangat
  • Bersahabat
4. AUTHORITARIAN

  • Controlling
  • Hadiah bila patuh
  • Tidak tanggap/peka
  • Aturan jelas, konsekwensi

tidak jelas

  • Pertentangan dalam diri
  • Mudah marah
  • Tidak bahagia
  • Tidak merasa aman
  • Tidak stabil
  • Cemas ,khawatir , gelisah
  • Agresive

SENSIVITAS
1. Kepekaan
a. Peka terhadap kebutuhan fisik dan psikologis anak
b. Peka terhadap masalah belajar dan hubungan sosial anak
2. Kehangatan
a. Memberi cukup perhatian dan sentuhan kasih sayang kepada anak
b. Peduli terhadap kebutuhan dan problematika anak
3. Responsivitas
a. Memberikan reaksi dengan cepat terhadap kebutuhan dan permasalahan anak
b. Memberikan respons yang tepat terhadap kebutuhan dan permasalahan anak

KELEKATAN
1. Percaya
a. Percaya pengasuh memandang positif dirinya
b. Percaya kepada kebaikan hati pengasuh
2. Komunikasi
a. Intensitas komunikasi dengan pengasuh
b. Keterbukaan komunikasi dengan pengasuh
3. Kedekatan
a. Puas terhadap kualitas hubungan dengan pengasuh
b. Afiliasi dengan pengasuh

Secondary modern school From Wikipedia

Published September 18, 2009 by arien20

The free encyclopedia Jump to: navigation, search Wetherby High School, a typical former secondary modern school in Wetherby, West Yorkshire A secondary modern school is a type of secondary school that existed in most of the United Kingdom from 1944 until the early 1970s under the Tripartite System, and was designed for the majority of pupils – those who do not achieve scores in the top 25% of the eleven plus examination. They were replaced in most of Britain by the comprehensive school system and remain in place now mainly in Northern Ireland, where they are usually referred to simply as Secondary schools, and in some parts of England, such as Buckinghamshire, Lincolnshire and Kent. The 1944 Butler Education Act created a system in which children were tested and streamed at the age of eleven. Those who were thought unsuitable for either an academic curriculum or a technical one, were to be sent to the secondary modern, where they would receive training in simple, practical skills. Education here was to focus on training in basic subjects such as arithmetic, mechanical skills such as woodworking and domestic skills, such as cookery. In an age before the advent of the National Curriculum, the specific subjects taught were chosen by the individual school. The first secondary moderns were created by converting around three thousand Senior Elementary schools, which had previously offered a continuation of primary education to the age of fourteen, into separate institutions. Many more were built between the end of the war and 1965, in the effort to provide universal secondary education. Although the Butler act planned a parity of esteem between this and the other sections of the tripartite system, in practice the secondary modern came to be seen as the school for failures. Those who had ‘failed’ their eleven plus were sent there to learn rudimentary skills before advancing to menial jobs. Secondary moderns prepared their students for the CSE examination, rather than the more prestigious O level, and although training for the latter was established in later years, less than one in ten children took advantage of it. Secondary moderns did not offer schooling for the A level, and in 1963 only 318 former secondary modern pupils sat A levels. None went on to university. Secondary moderns were generally deprived of resources and good teachers. The Newsom Report of 1963 reported on education for these children, and found that in some schools in slum areas of London fifteen year old pupils were sitting on furniture intended for primary schools. Staff turnover was high and continuity in teaching minimal. Not all secondary moderns were as bad, but they did generally suffer from neglect by the authorities. The poor performance of the ‘submerged three quarters’ of British schoolchildren led to calls for reform. Experiments with comprehensive schools began in the 1950s, hoping to provide an education which would offer greater opportunities for those who did not enter grammar schools. Several counties, such as Leicestershire, got rid of their secondary moderns altogether. In 1965, the Labour government issued Circular 10/65, implementing the Comprehensive System. By 1976, with the exception of a few regions including Kent, Dorset, Buckinghamshire, Stoke, Slough, the Wirral and Ripon, secondary modern schools had been formally phased out. In counties still operating the Tripartite System or a Bipartite System, there are still schools fulfilling the role of the secondary modern by taking those pupils who do not get into grammar schools. These schools may be known colloquially (though not officially) as ‘high schools’ (Medway and Trafford), ‘upper schools’ (Buckinghamshire) or simply ‘all-ability schools’.

Source : wikipedia.com

paradigma dalam mendidik anak dalam mencapai kesuksesan

Published September 3, 2009 by arien20

Suskses adalah impian setiap orang. Sejak kecil kita pasti mempunyai cita-cita, untuk meraih cita-cita tentunya kita harus melewati tahapan-tahapan dalam hidup .

Tahapan yang pertama adalah belajar. Sejak bayi kita sudah mulai belajar. Pertama kita akan belajar mendengar, setelah belajar mendengar kita akan berbicara dan setelah berbicara kita belajar membaca dan setelah membaca kemudian belajar menulis. Semua tahapan belajar itu tentunya tidak mudah, orang tua dengan susah payah memberikan contoh, misalnya menyebut dengan mama, papa, mimik dan lain-lain. Alangkah bahagianya kita mendengar kata pertama yang diucapkan oleh anak kita. Dengan bangganya kita bisa melihat perkembangan anak. Semuanya tidak berhenti sampai disini. Setelah usia 3 tahun banyak orang tua mencari sekolah untuk anak usia dini. Kita tentunya akan bangga anak kita dapat berkembang sesuai dengan tingkatan usianya. Tetapi terkadang orang tua dan guru akan merasa panik dan marah apabila anak tersebut tidak bisa mengikuti pembelajaran yang telah berlangsung atau tidak mempunyai prestasi atau mendapatkan nilai jelek di sekolahnya. Kenapa kita harus panik. Asal kita tahu bahwa setiap anak dilahirkan dalam kondisi cerdas. Semua tinggal bagaimana cara kita mengoptimalkan kecerdasan anak.Banyak sekali orang tua atau guru menyampingkan anak-anak yang kurang cerdas, bandel dan tidak pernah patuh. Apakah ini adil bagi anak. Setiap anak berhak mendapatkan pendidikan, karena dengan pendidikan anak dapat mencapai kesuksesan. Berbicara masalah pendidikan tentunya setiap orang tua dan guru akan merasa bangga apabila anak tersebut mendapatkan nilai yang bagus. Guru akan merasa cemas dan marah apabila anak didik mendapatkan nilai dibawah rat-rata. Sementara anak-anak yang terkadang aktif dalam kegiatan akan mendapatkan nilai yang kurang memuaskan. Terkecuali anak-anak yang bisa mengatur waktunya sebaik-baiknya. Tentunya selain mendapatkan nilai akademis yang bagus juga aktif dalam kegiatan. Lalu bagaimana dengan nasib anak-anak yang memang kurang dalam akademis tetapi disatu sisi mereka cerdas dalam spiritual dan emosional. Kita sebagai orang tua dan guru tentunya punya tanggung jawab yang besar untuk menghantarkan anak didik kita mencapai kesuksesan. Kita harus berlaku adil, karena intinya kita akan mendidik bukan mengajar.

Untuk mencapai sukses seseorang harus memiliki 3 kecerdasan yaitu kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Masing-masing mempunyai peran yang penting dalam membantu anak menuju kesuksesan. Kecerdasan apa yang paling pokok supaya seseorang itu bisa mencapai kesuksesan . Ternyata adalah kecerdasan spiritual sebanyak 50 %, kecerdasan emosional 30 % dan kecerdasan intelektual 20 %. Dari data ini dapat dilihat bahwa anak tidak hanya cukup pandai saja, tetapi perlu adanya pengembangan dalam hal spiritual dan emosional. Selama ini pendidikan kita lebih mengutamakan kecerdasanintelektual, tetapi bagaimana dengan kecerdasan spiritual dan kecerdasan emosional. Banyak orang-orang sukses karena mempunyai kecerdasan emosional yang tinggi. Misalnya seseorang yang bekerja dalam pembuatan film, maka dibutuhkan orang-orang yang trampil, tetapi juga dapat berkomunikasi di lingkungan kerja yang notabene dari berbagai kalangan masyarakat. Apabila pendidikan kita selama ini tidak mengoptimalkan kecerdasan emosional anak maka apabila anak nanti masuk di dunia kerja maka akan sulit untuk dapat mengenali dirinya, mengendalikan dirinya bahkan memotivasi, bersikap empati bahkan berkomunikasi dengan orang lain. Dalam dunia kerja anak akan menemui berbagai karakteristik manusia. Siapkah anak kita menghadapi dunia seperti itu. Untuk menyiapkan anak yang mempunyai kecerdasan emosional maka kita perlu memberikan pendidikan yang selayaknya. Berikanlah anak kesempatan untuk mengoptimalkan kemampuan di bidangnya, biarkanlah anak mengembangkan kreativitasnya. Karena dengan kita melabel anak atau menghakimi anak tentunya anak akan merasa dirinya tidak berguna dan putus asa. Semua ini akan mematahkan semangat anak. Berikanlah kata-kata yang bisa memberikan motivasi ke anak bukan kata-kata yang menghujat atau tidak enak di dengar . Kata-kata yang indah akan lebih dapat dimengerti dan dihargai anak. Kenalilah setiap karakteristik anak. Menganggap semua anak sama itu tidaklah benar, karena setiap anak mempunyai keunikan masing-masing. Bahkan anak dalam kandungan yang sama tentunya akan berbeda. Dari sinillah kita tahu bahwa Tuhan tidak menciptakan setiap manusia yang sama walau kembar sekalipun. Oleh karena itu sepantasnya kita sebagai orang tua dan guru bangga dengan apapun kondisinya anak, tinggal kita bagaimana cara mengoptimalkan kecerdasan anak.Tuntunlah anak kita untuk mencapai kesuksesan. Bekalilah anak dengan emiliki kecerdasan emosional dan spiritual.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.